Untuk Ojol, Motor Bebek Lebih Praktis Ketimbang Matic

ojek onlineAda yang posting tentang motor ojek online di sebuah grup facebook Motuba (Mobil Tua Bangka). Yang menarik dan jadi pembahasan adalah cukup banyak para ojol (ojek online) ini selalu memakai motor matic daripada motor bebek. Asumsi saya sih mungkin karena motor matic ini sangat fleksibel untuk membawa barang bawaan lebih banyak. Namun ternyata dilihat dari segi perawatan, sebenarnya motor bebek-lah yang paling tangguh dan nggak ribet, khususnya adalah perangkat penggerak roda belakang.

Untuk motor matic, ada perawatan ekstra yaitu pada perangkat CVT-nya, malah ada servis sendiri khusus CVT karena ada beberapa part yang harus sering diperiksa agar tetap nyaman dikendarai. Saya jadi inget motor matic dirumah, ada Honda Spacy tahun 2012 dan Yamaha Mio Sporty 2010 (sudah terjual), selain servis mesin, juga harus memeriksa kondisi transmisinya apakah ada keausan.

Beda dengan motor bebek, perawatannya paling mudah dan murah, penggerak roda belakang cuma mengandalkan rantai, kalau kendor tinggal dikencengin saja, kalau sudah molor ya diganti gearset atau rantainya saja, tapi kalau mata gearnya sudah aus ya sebaiknya ganti semua. Harga gear set itu nggak mahal kok untuk ukuran motor bebek, dan usia pakai lebih tahan lama.

Memang kalau untuk ojol lebih baik pakai motor bebek saja mengingat biaya perawatan yang cukup minim dibandingkan matic, jadi kan bisa sedikit menghemat pengeluaran untuk biaya operasional motor. Tapi itu semua kembali ke selera masing-masing, sesuaikan dengan kebutuhan saja, keunggulan matic tentu lebih praktis karena mengendarainya cuma ngegas saja dan bisa bawa barang bawaan lebih lega. (Ochim)

 

Iklan

Efek Dibukanya Ruas Tol Madiun – Wilangan

gerbang tol wilangan

gerbang tol wilangan

Weekend kemarin saya dan istri mudik ke Magetan, kemudian pada minggu sore sekitar jam 4 balik ke Mojokerto lagi. Perjalanan bisa dibilang lancar namun juga menemui kemacetan yaitu di kawasan simpang empat mengkreng-Kertosono sampai di gerbang tol Bandar Kedungmulyo-Jombang. Penyebabnya adalah penyempitan jalan yang sekaligus dekat dengan pintu keluar tol Bandar Kedungmulyo, kemudian juga diperparah oleh adanya perlintasan kereta api.

saradan

Jalan raya Saradan

Lepas itu sudah lancar nggak ada penumpukan kendaraan lagi. Malah ketika sampai di setelah pintu tol Madiun arus lalu lintas cenderung sepi. Seperti di Caruban dan Saradan yang biasanya selalu ramai oleh kendaraan besar seperti truk trailer, bis maupun kendaraan pribadi, kali ini cukup lengang. Hanya sesekali ketemu bis-bis ekonomi macam bis Jogjaan serta bis Ponorogo yang terlihat melintas.

saradan 2

sepi banget

Sepinya jalur ini karena memang sudah dibukanya tol dari Madiun ke Wilangan maupun arah sebaliknya, namun kemarin itu masih gratis dan baru diberlakukan tarifnya pada tanggal 1 Mei 2018. Seandainya ruas tol Wilangan – Kertosono sudah jadi, tentu lalu lintas bawah atau jalur biasa semakin lancar apalagi pas libur hari besar yang biasanya rawan macet. Diperkirakan untuk rual tol Wilangan – Kertosono akan selesai pada akhir tahun 2018, mudah-mudahan saja selesai tepat waktu. (Ochim)


Jalur Pujon – Kasembon Dimata Mereka

jalur pujon - kasembonTadi pagi baru baca postingan horor di sebuah grup facebook Motuba (Mobil tua bangka), kebetulan ini juga jalur yang dulu sering saya lewati ketika masih kuliah di Malang. Kalau sekarang sih sudah jarang.

Jadi postingan tersebut menceritakan pengalaman horor ketika melintas disana, ada yang ketemu pocong maupun penglihatan pengendara yang teralihkan, jalan yang harusnya belok tapi terlihat lurus, serem banget sih…

Memang jalur tersebut dominasi hutan dan jalanan yang berkelok-kelok, kalau malam hari diatas jam 8 sudah pasti sepi jarang ada yang lewat, kecuali kalau pas weekend rame karena banyak penglaju yang mengunjungi Kota wisata Batu. Pengalaman yang sama horornya juga diceritakan oleh para netizen di kolom komentar pas melintas malam hari, macem-macem pokoknya. Wah ternyata banyak yang punya pengalaman mistis lewat sana ya…

Pengalaman saya selama ini lewat di rute tersebut aman-aman saja, saya nggak pernah ketemu hal mistis disana, ya biasa nggak ada yang aneh maupun horor.

Pengalaman lain yang paling malem tapi riding boncengan dengan saudara saya, jadi dari Malang memang berangkatnya masih maghrib namun karena mampir-mampir jadinya masuk Kota Batu hampir jam 9. Ketika sampai di Dewi Sri sekitar jam setengah 10  saya dan saudara mulai sama-sama ngantuk, maklum saja karena memang pas sore itu baru sampai di Malang jenguk sepupu di rumah sakit kemudian langsung pulang ke Kandangan. Maka saya putuskan untuk istirahat sebentar di masjid pojokan setelah Dewi Sri kalau dari arah Malang, habis tiduran sebentar (nggak bisa merem) jam stengah 11 ambil wudhu dan sholat isya trus langsung berangkat lagi. Ditengah perjalanan juga saya nggak menemui hal mistis sampai kawasan hutan itu habis dan menemui pemukiman ramai.

Memang selama ini belum pernah sampai tengah malam lewat sana, mungkin kalau saya disana pas tengah malam bakal lain ceritanya ya, hehee tapi yang saya takutkan riding malam itu kalau ban bocor, ya bakal jarang ketemu tukang tambal ban, makanya kalau bisa saya hindari jalan malam melewati jalur Pujon – Kasembon. (Ochim)  

Screenshot_20180428-063501jalur pujon - kasembon 3jalur pujon - kasembon 2


Kalau Nggak Sumber atau Mira, Saya Nggak Naik

Bis Sumber Kencono ATB (AC Tarif Biasa) jur. Surabaya – Yogyakarta

Di simpang empat Mertex Mojokerto, saya biasa nunggu bis untuk berangkat kerja. Disana saya menemui orang yang sama, seorang ibu-ibu yang belakangan saya tahu dia berangkat kerja di Perak – Jombang katanya. Karena sering ketemu pas nunggu bis, saya iseng ngobrol-ngobrol daripada bengong lihatin jalan. Ya standar saja obrolannya orang dijalan, lalu berlanjut ke obrolan yang lain sampai ke masalah bis.

Pas sambil ngobrol, ketika dari jauh nampak bis yang ternyata bukan bis pilihannya, dia nampak biasa saja tidak bergegas untuk siap-siap naik, saya berkata, “itu ada bis…” lalu orang itu membalas, “mboten mas, kulo nek mboten sumber nopo Mira mboten munggah” (nggak mas, saya kalau nggak sumber atau Mira saya nggak naik). Alasannya ya karena pagi itu berangkat kerja tentunya agak terburu waktu, maka dia harus pilih-pilih bis, tentu saja pilihannya bis Sumber group atau Mira. Tahu sendiri kan kedua bis itu memang cukup “menjanjikan” untuk mengejar waktu. (Ochim)


Naik Bis Harapan Jaya, Jadi Teringat Masa Kecil

Harapan Jaya di MojoagungPagi tadi ketika berangkat kerja dari Mojokerto kebetulan dapat bis Harapan Jaya ATB Jurusan Surabaya – Trenggalek, Penumpang nggak begitu banyak karena masih pagi, Jadi saya cukup nyaman nggak desak-desakan apalagi AC juga cukup dingin, pokoknya serasa naik bis kelas eksekutif, hehee.. Beda dengan bis yang arah ke Surabaya yang pastinya sudah pada penuh karena bersamaan dengan orang berangkat kerja di Ibukota.

Bis berjalan cukup kencang tapi sopirnya ini bawaannya alus, jadi tetep nyaman di dalam bis. Setelah bayar karcis ke kondektur, entah kenapa kemudian pikiran saya melayang ke beberapa tahun lalu ketika masih kecil. Dulu orang tua saya sering mengajak ke rumah mbah di Tulungagung dengan naik bis, termasuk Harapan Jaya ini.

Dulu bis dari Kediri ke Tulungagung maupun Trenggalek banyak pilihannya, selain Harapan Jaya, ada Pelita Indah, Surya Indah, Surya Perdamaian, Sri Lestari, Jaya Mulya, Murni Jaya, Jaya Baru, Setiawan, Seruni, Baruna, dan masih banyak lagi. Namun yang masih eksis sampai sekarang cuma Harapan Jaya dan Pelita Indah, sesekali saya juga kadang ketemu Baruna.

Waktu itu seneng banget bisa naik bis besar, apalagi kalau pas dapat bangku paling depan, bisa lihat aksi sopir menyalip kendaraan depan di jalur lurus Kediri – Tulungagung. Kalau pas nggak dapat duduk paling depan, saya selalu milih duduk dekat jendela, rasanya asik saja bisa melihat lalu lintas dari dalam bis. Kemudian juga saya selalu koleksi karcis bis yang pernah saya naiki, namun yang paling banyak karcis bis Pupsa Indah atau Hasti jurusan Malang – Kediri/Jombang dan bis Jurusan Surabaya – Trenggalek.

Walau begitu sebenarnya dulu ada ketakutan tersendiri naik bis, yaitu ketika turunnya. Tahu sendiri kan pas menurunkan penumpang bisnya itu nggak bener-bener berhenti tapi masih berjalan lambat dan penumpang harus cepet-cepet turun, sedangkan saya itu takut jatuh apalagi jarak dari lantai bis ke aspal cukup tinggi.

Last… tak terasa 30 menit sudah di dalam bis Harapan Jaya mengenang masa kecil, bis sudah hampir sampai Mojoagung dan saya harus siap-siap untuk turun (kali ini nggak perlu takut lagi 😀 ) kemudian saya lanjut ambil motor di penitipan dan gas lagi melanjutkan perjalanan. (Ochim)

 


Segernya Es Campur Pak Ni Kawasan Doko Kediri

Es campur Pak Ni 2Cuaca di Kediri akhir-akhir ini memang sangat cerah dan panas, meskipun terkadang pada sore maupun malemnya hujan. Saya yang sering melakukan perjalanan pada siang hari baik ketika pulang ke Mojokerto maupun otewe kerja di Kandangan jadi makin terasa panasnya. Makanya dijalan biasanya saya mampir beli segelas es degan sekedar mengusir rasa haus.

Namun kali ini agak berbeda, entah kenapa saya penasaran dengan es campur di daerah Doko, Kediri. Sering banget pas dinas luar ke Kota Kediri saya lewat depan warung es campur itu kok nampak rame banget. Apalagi di Istagram akun Info Kediri, si admin kebetulan memposting warung es campur tersebut yang katanya sangat recommended. Wah makin penasaran saja apalagi banyak komentar disana yang merekomendasikan  es campur tersebut.

Nah kebetulan pas saya harus ke Kediri Kota lagi, berangkat dari tempat kerja sudah niat mau mampir, rame pun nggak masalah yang penting masih ada tempat. Ketika urusan di Dinas Pendidikan sudah selesai sekitar jam 11, tancap gas kesana. Langsung pesan 1 es campur dan begini penampakannya…

Es campur Pak NiCampurannya banyak, ada semacam agar-agar yang diiris kotak-kotak, lalu kacang ijo, dawet, irisan alpukat, kolang kaling dan masih banyak lagi. Kemudian atasnya dikasih es batu yang sudah dipasrah dan dikasih susu coklat. Hmm… tampilan yang sangat menggoda kan? 😀 Menurut saya es campur ini mirip banget seperti yang ada di Kota Surabaya, kebetulan disana saya juga punya langganan warung es campur di kawasan Pucang Anom.

Untuk harganya satu mangkok es campur ini dibanderol 8 ribu saja, cukup murah untuk ukuran saya dan porsinya juga memuaskan. Lokasi tepatnya ada di jalan Sekartaji, kalau dari markas Yonif 521 Kediri ke timur kurang lebih 2 km kanan jalan atau timurnya kantor Pengadilan Agama. Selain Es campur, juga menyediakan menu es buah. (Ochim)


Foto Espass Saya Masuk Grup Jual Beli Mobil

espass2Kebetulan saya ikut beberapa grup jual beli mobil maupun motor, iseng saja untuk mengikuti perkembangan harga-harga kendaraan di karesidenan Kediri. Namun pagi itu ketika lagi dikantor saya buka facebook, ada postingan foto yang baru rilis 35 menit yang lalu membursakan beberapa mobil dan salah satunya adalah Espass saya.

Kaget dan jengkel sih, karena saya tidak menjual mobil saya dan lagian juga saya tidak kenal dengan orang yang memposting foto tersebut. Niat saya mau inbox orangnya namun ternyata postingan tadi sudah tidak ada alias dihapus.

Saya heran kenapa orang tersebut membuat postingan seperti itu?doi pasti mengambil foto tersebut dari google dan kemudian membuat keterangan seolah-olah bahwa mobil tersebut adalah dia yang jual. Karena memang foto tersebut pernah saya posting di blog saya.

Keterangan yang terdapat dalam foto tersebut ada nomer telepon, harga, tahun mobil serta plat nomor asal kendaraan. Espass saya keterangannya tahun ’96 padahal aslinya tahun ’95, kemudian disitu tertulis plat AE Ponorogo sedangkan aslinya adalah AG Pare, Kediri.

Saya buka facebook orang yang posting itu dan kebetulan bisa dilihat status maupun foto-foto disana. sepertinya memang profesi doi adalah sebagai penjual mobil bekas. Ada beberapa foto yang menunjukkan showroom yang terdapat mobil berjajar disana. Kalau memang profesinya adalah jual beli mobil, harusnya tidak memakai foto lain untuk membursakan kendaraannya. (Ochim)