Category Archives: Serba serbi

Kena Bara Api Rokok di Jalan Raya Caruban

Sejak sekolah dulu sampai sekarang, saya sudah menggunakan motor untuk memudahkan beraktivitas, baik jarak jauh maupun dekat. Namun baru kali ini saya merasakan kena panas bara api dari rokok seorang pengendara motor dijalan. Memang akhir-akhir ini banyak kampanye melalui youtube maupun sosmed lain yang mengajak untuk tidak merokok ketika mengendarai motor, karena memang pernah ada korban pengendara roda 2 yang kena.

Sekarang giliran saya yang jadi korban. Jadi ceritanya beberapa waktu lalu saya perjalanan dari Magetan ke Kediri sekitar jam 04.30 pagi. Ketika sampai di Caruban, saya riding santai dan di depan saya ada 2 orang boncengan, nah yang dibonceng itu tangan kirinya bawa rokok menyala. Kemudian tepat di depan Terminal Caruban, rokoknya memercikkan bara merah dan terbang ke belakang mengenai lutut saya. Awalnya bara itu nggak terasa dan saya biarkan. Baru sekitar 3 detikan setelah kena bara tersebut, ada rasa panas dan seperti ada yang menusuk lutut saya. Tangan kiri saya reflek mengusap-usap lutut sambil berusaha menghentikan motor, saya lihat celana ternyata nggak sampai bolong, padahal terasa panas banget.

Ingin rasanya menegur mereka tapi kalau saya lakukan takutnya malah doi tersinggung dan urusan jadi panjang. Kemudian saya jalan lagi dan menyalip mereka dan langsung menjauh.

Berdasarkan pengalaman ini, saya harap pengendara motor untuk selalu memakai peralatan safety riding yang lengkap, kalau perlu memakai kacamata. Karena ada korban lain itu yang kena adalah matanya, padahal dia sudah pakai helm half face dan kacanya kondisi  tertutup. Saya pikir mungkin bara itu masuk melalui celah antara kaca dan dagu pengendara. (Ochim)

Iklan

Bawaannya Pengen Ngebut Dijalur Ini Ketika Pakai Supra 125

simpang empat patung pecel madiun

simpang empat patung pecel madiun

Beberapa waktu lalu saya riding pakai Supra Helm in dari Ngariboyo (Magetan) ke Kandangan (Kediri). Namun berangkatnya pas dini hari jam 03.05, btw ini pengalaman pertama saya riding dini hari dijalur tengah Jawa timur 😀 Jadi arus lalu lintasnya cenderung sepi, nggak seperti siang maupun sore hari yang selalu ramai.

Sudah lama saya tidak riding pakai motor bebek Supra 125 dijalur ini, terakhir ya dulu tahun 2013 ketika masih sering wara-wiri Kandangan-Magetan via Nganjuk seminggu sekali. Waktu itu saya selalu memacu motor diatas 80 km/jam karena memang jalur Kertosono – Madiun cenderung lurus nggak ada belokan. Seperti diketahui bahwa karakter motor Supra 125 untuk top speednya memang jempolan, mesin tidak terlalu teriak.

Supra Helm In punya Bapak

Nah kemarin itu seakan teringat saat dulu sering riding pakai Supra 125 dijalur tersebut, hanya bedanya yang saya bawa motor Supra 125 Helm In punya Bokap. Awalnya riding santai saja di kecepatan 60 -70 kpj, namun lama-lama kok ya nambah, apalagi lalu lintas lengang, wes makin puntir gas lebih dalem lagi, memacu motor di kecepatan rata-rata 80-90 kpj. Di jalan raya Madiun-Balerejo yang jalannya mulus dan lebar, makin mudah saja meraih top speed si Supra ini. Memasuki Saradan sempat terjebak truk-truk besar yang melambat dan nggak bisa nyalip  karena garis marka tersambung, lalu geber lagi ketika ada celah untuk menyalip. Motor Supra 125 ini galaknya itu pada gigi 2 dan 3, jadi untuk nyalip diantara kendaraan-kendaraan itu cukup lincah.

Ketika sampai di Wilangan-Nganjuk, mata terasa berat, mulai ngantuk, apalagi memang semalam kurang cukup tidur dan capek karena sampai magetan baru kemarin sorenya untuk menghadiri suatu acara.

Sampai di simpang empat Guyangan, saya belok kanan arah Kediri melalui Nganjuk Kota. Setelah sampai di kawasan Loceret pukul 05.32, saya berhenti di Masjid Besar untuk istirahat sebentar.  Ternyata hampir satu jam saya di masijd, langsung bergegas untuk melanjutkan perjalanan lagi melalui Tanjunganom dan Ngronggot, menyeberang jembatan baru Papar-Kelutan lalu lurus saja menuju Kandangan.

Supra 125 yang sudah terjual pada tahun 2015

Mengenang 5 tahun yang lalu ketika pakai Supra 125 ini, untuk riding rutinan Kandangan-Ngariboyo (Magetan) memang sangat recommended sekali, selain irit dan nyaman (untuk ukuran motor bebek) juga mesinnya bandel, dipacu kecepatan tinggi 3 jam lebih tarikannya tetep mantab, nggak ada gejala ngempos. Jadi pengen Supra lagi,hahahaa (Ochim)

 


Pas Kehujanan Nggak Bawa Mantel

20171108_143736Biasanya kemana-mana saya selalu bawa mantel, baik ketika bawa motor bebek maupun motor batangan. Namun saya harus perhatikan dulu cuaca saat itu, misalnya saja ketika pas mau riding berangkat kerja, kalau cuaca sedikit mendung meskipun nampak matahari, saya tetap bawa mantel.

Kali ini meleset, siang itu dari Kandangan saya mau perjalanan ke kantor Dinas Pendidikan di Kota Kediri, sebelum berangkat saya mau ganti motor dulu karena saat itu bawa motor bebek dan rencananya mau boncengan sama temen. Biar nyaman ridingnya saya mau tuker motor saja punya kakak saya pakai New Megapro. Namun ketika ganti motor, saya lupa ambil mantel juga di bagasi jok motor saya, baru inget ketika lagi dijalan. Tapi lihat cuaca saat itu memang lagi cerah jadi saya pikir nggak bakal hujan.

Ternyata pas sampai di Kantor Dinas Pendidikan Kota Kediri, tiba-tiba saja mendung gelap, saya pikir paling nanti nggak hujan, meskipun ada rasa khawatir juga karena nggak bawa mantel. Karena seperti kemarin-kemarin, langit kediri memang sering mendung serta udara sumuk tapi nggak hujan. Hingga akhirnya urusan di Kantor Dinas sudah kelar saya langsung cabut buru-buru pulang ke Kandangan. Namun ketika sampai di kawasan Gedangsewu,Pare tiba-tiba hujan langsung turun deras. Saya lalu berteduh di sebuah toko yang kebetulan sedang tutup.

Sekitar 15 menit menunggu hujan masih deras dan saya bersama temen sudah nggak betah menunggu berlama-lama, apalagi saya yang masih merasa nyesel banget karena lupa nggak bawa mantel. Hingga akhirnya saya mengamankan berkas-berkas yang saya bawa dengan tas kresek yang kebetulan selalu saya bawa, kemudian nekat melanjutkan perjalanan. (Ochim) 


Lupa Bawa STNK, Kena Tilang deh…

Seumur-umur baru kali ini saya kena tilang, ya karena memang kesalahan saya sendiri, lupa bawa STNK. Baru sadar ketika ada cegatan di kawasan Polsek Gurah, pas buka dompet untuk mengeluarkan SIM dan STNK, si STNK ini nggak ada, saya baru sadar bahwa beberapa hari yang lalu ketika saya mau mudik ke Magetan, STNK motor memang sengaja saya tinggal dirumah, karena mudiknya mau pakai espass.

Wes jelas ini kelalaian saya, ya uwes manut saja apa kata bapak polisi yang menilang. Didata kemudian diarahkan untuk membayar di bank BRI lalu nantinya ditunjukkan ke Polres Kediri untuk ditunjukkan serta mengambil SIM saya yang ditahan. (Ochim) 


Surprise Banget Merasakan Jok Honda Scoopy FI

honda-scoopy-fiIni pengalaman pertama saya naik scoopy, tunggangan seorang temen cewek yang kebetulan minta dianter belanja untuk keperluan kantor. Awalnya saya pikir naik Scoopy itu ya sama kayak matic honda yang lain, tapi ternyata beda, joknya itu lebih empuk dan terasa nyaman saat mengendarainya. Padahal untuk kulit joknya sama seperti matic dan motor bebek Honda yang lain yaitu permukaannya sedikit kasar.

Pengalaman saya naik matic Honda seperti Beat, Vario techno 110/125 dan Spacy sama saja tidak ada yang istimewa (Vario 150 belum pernah nyoba). Tapi untuk Scoopy FI ini memang bener-bener berbeda. Didalam joknya seperti ada pegas yang membuatnya jadi lebih nyaman diduduki, apalagi saat melibas jalan yang nggak rata, pantat terasa anteng tidak terlalu bergeser karena efek guncangan. Kalau boleh menyamakan, menurut saya joknya Scoopy ini mirip punya matic Yamaha Mio Sporty yang memang terkenal empuk, kebetulan dirumah dulu pernah punya dan saya sering pakai juga. (Ochim)   


Pengalaman Naik Angkot Kota Mojokerto, Potong Kompas diluar Rutenya

line-a-kota-mojokertoSudah tidak asing bagi saya kalau mobil angkutan umum (MPU) terkadang tidak melewati rute yang sebenarnya, cenderung potong kompas untuk memperpendek jarak tempuh. Hal ini dilakukan karena rute yang tidak dilalui tersebut dianggap sepi penumpang. Namun yang membuat saya prihatin adalah ternyata angkot di Kota Mojokerto juga ada yang tidak melewati rute yang seharusnya. Padahal ini angkutan kota yang harusnya menurut saya ramai penumpang, ternyata juga sepi.

Ini saya ketahui beberapa waktu lalu ketika naik angkot dari terminal Mojokerto mau ke rumah kontrakan kawasan Magersari. Di selter pemberangkatan terminal MPU, tidak ada angkot yang ngetem, tapi diluar terminal ada 2 angkot line A dan B yang berjajar. Ada 3 orang yang berdiri di dekat angkot tersebut, saya mendekat lalu salah satu dari mereka menanyakan tujuan saya..

 “mau kemana mas?”

 saya jawab, “perum magersari pak”

 angkot-mojokertolalu orang tersebut menunjukkan line A yang ternyata sudah ada 3 penumpang di dalamnya, tapi saya di luar saja menunggu keberangkatannya. Sekitar 10 menit kemudian angkot berangkat dengan membawa 4 penumpang termasuk saya.

Sempat menaikkan penumpang 1 orang kemudian turun di depan Pasar Tanjung. Hingga akhirnya jalan yang menuju ke alun-alun tidak dilewati, langsung potong kompas lewat jalan lain, kemudian di rute lain juga tidak dilewati. Asumsi saya mungkin karena sepi penumpang jadinya pak sopir ambil rute terpendek agar bisa langsung kembali lagi ke terminal.

Oya saya jadi penumpang terakhir saat turun di depan perumahan, karena penumpang yang lain sudah pada turun di kawasan Pasar tanjung dan di persimpangan jalan arah ke alun-alun Kota.

Prihatin juga melihat kondisi angkot yang sekarang ini mulai ditinggalkan oleh para penumpang. Mereka lebih memilih memakai kendaraan pribadi untuk melakukan aktivitas sehari-hari. (Ochim)


Mengejar Harapan Jaya

Setiap pagi, saya selalu mengantar istri berangkat kerja ke halte bis kawasan Mojoagung, Jombang. Kebetulan istri saya ngajar di Kota Mojokerto, cukup jauh sekitar 46 km dari rumah di Kandangan. Untuk kesana, saya harus mengantar istri naik motor untuk menyingkat waktu, namun cuma sampai di mojoagung saja. Selanjutnya naik bus besar jurusan ke Surabaya.

speedometer-megaproSebenarnya dari Kandangan juga ada bis, yaitu naik bis medium menuju Jombang, lalu dari terminal Jombang oper bis besar jurusan ke Surabaya dan turun di Mojokerto. Namun kurang efisien karena harus ke Jombang dulu dan waktu tempuh jadi lama, belum lagi istri harus check lock sebelum jam 7 pagi. Paling praktis ya saya antar langsung ke Mojoagung melalui jalur alternatif yaitu lewat Bareng kemudian tembus Mojoagung, dilanjut naik bis arah ke Surabaya.

harapan-jaya-di-mojoagung

sori gambarnya ngeblur… 😀

Biasanya saya berangkat dari Kandangan tepat pukul 05.00, melewati Ngoro – Bareng – Mojoagung. Waktu tempuh agak ngebut 30 menit sudah sampai di halte Mojoagung kemudian menunggu bis yang akan membawa ke Mojokerto. Diantara pukul 05.30 – 05.40 nanti ada bis Harapan Jaya melintas dari Trenggalek menuju Surabaya. Bis ini yang selalu mengantar istri saya sampai di Mojokerto dan tidak telat sampai sekolah. (Ochim)