Category Archives: Serba serbi

Efek Dibukanya Ruas Tol Madiun – Wilangan

gerbang tol wilangan

gerbang tol wilangan

Weekend kemarin saya dan istri mudik ke Magetan, kemudian pada minggu sore sekitar jam 4 balik ke Mojokerto lagi. Perjalanan bisa dibilang lancar namun juga menemui kemacetan yaitu di kawasan simpang empat mengkreng-Kertosono sampai di gerbang tol Bandar Kedungmulyo-Jombang. Penyebabnya adalah penyempitan jalan yang sekaligus dekat dengan pintu keluar tol Bandar Kedungmulyo, kemudian juga diperparah oleh adanya perlintasan kereta api.

saradan

Jalan raya Saradan

Lepas itu sudah lancar nggak ada penumpukan kendaraan lagi. Malah ketika sampai di setelah pintu tol Madiun arus lalu lintas cenderung sepi. Seperti di Caruban dan Saradan yang biasanya selalu ramai oleh kendaraan besar seperti truk trailer, bis maupun kendaraan pribadi, kali ini cukup lengang. Hanya sesekali ketemu bis-bis ekonomi macam bis Jogjaan serta bis Ponorogo yang terlihat melintas.

saradan 2

sepi banget

Sepinya jalur ini karena memang sudah dibukanya tol dari Madiun ke Wilangan maupun arah sebaliknya, namun kemarin itu masih gratis dan baru diberlakukan tarifnya pada tanggal 1 Mei 2018. Seandainya ruas tol Wilangan – Kertosono sudah jadi, tentu lalu lintas bawah atau jalur biasa semakin lancar apalagi pas libur hari besar yang biasanya rawan macet. Diperkirakan untuk rual tol Wilangan – Kertosono akan selesai pada akhir tahun 2018, mudah-mudahan saja selesai tepat waktu. (Ochim)

Iklan

Jalur Pujon – Kasembon Dimata Mereka

jalur pujon - kasembonTadi pagi baru baca postingan horor di sebuah grup facebook Motuba (Mobil tua bangka), kebetulan ini juga jalur yang dulu sering saya lewati ketika masih kuliah di Malang. Kalau sekarang sih sudah jarang.

Jadi postingan tersebut menceritakan pengalaman horor ketika melintas disana, ada yang ketemu pocong maupun penglihatan pengendara yang teralihkan, jalan yang harusnya belok tapi terlihat lurus, serem banget sih…

Memang jalur tersebut dominasi hutan dan jalanan yang berkelok-kelok, kalau malam hari diatas jam 8 sudah pasti sepi jarang ada yang lewat, kecuali kalau pas weekend rame karena banyak penglaju yang mengunjungi Kota wisata Batu. Pengalaman yang sama horornya juga diceritakan oleh para netizen di kolom komentar pas melintas malam hari, macem-macem pokoknya. Wah ternyata banyak yang punya pengalaman mistis lewat sana ya…

Pengalaman saya selama ini lewat di rute tersebut aman-aman saja, saya nggak pernah ketemu hal mistis disana, ya biasa nggak ada yang aneh maupun horor.

Pengalaman lain yang paling malem tapi riding boncengan dengan saudara saya, jadi dari Malang memang berangkatnya masih maghrib namun karena mampir-mampir jadinya masuk Kota Batu hampir jam 9. Ketika sampai di Dewi Sri sekitar jam setengah 10  saya dan saudara mulai sama-sama ngantuk, maklum saja karena memang pas sore itu baru sampai di Malang jenguk sepupu di rumah sakit kemudian langsung pulang ke Kandangan. Maka saya putuskan untuk istirahat sebentar di masjid pojokan setelah Dewi Sri kalau dari arah Malang, habis tiduran sebentar (nggak bisa merem) jam stengah 11 ambil wudhu dan sholat isya trus langsung berangkat lagi. Ditengah perjalanan juga saya nggak menemui hal mistis sampai kawasan hutan itu habis dan menemui pemukiman ramai.

Memang selama ini belum pernah sampai tengah malam lewat sana, mungkin kalau saya disana pas tengah malam bakal lain ceritanya ya, hehee tapi yang saya takutkan riding malam itu kalau ban bocor, ya bakal jarang ketemu tukang tambal ban, makanya kalau bisa saya hindari jalan malam melewati jalur Pujon – Kasembon. (Ochim)  

Screenshot_20180428-063501jalur pujon - kasembon 3jalur pujon - kasembon 2


Foto Espass Saya Masuk Grup Jual Beli Mobil

espass2Kebetulan saya ikut beberapa grup jual beli mobil maupun motor, iseng saja untuk mengikuti perkembangan harga-harga kendaraan di karesidenan Kediri. Namun pagi itu ketika lagi dikantor saya buka facebook, ada postingan foto yang baru rilis 35 menit yang lalu membursakan beberapa mobil dan salah satunya adalah Espass saya.

Kaget dan jengkel sih, karena saya tidak menjual mobil saya dan lagian juga saya tidak kenal dengan orang yang memposting foto tersebut. Niat saya mau inbox orangnya namun ternyata postingan tadi sudah tidak ada alias dihapus.

Saya heran kenapa orang tersebut membuat postingan seperti itu?doi pasti mengambil foto tersebut dari google dan kemudian membuat keterangan seolah-olah bahwa mobil tersebut adalah dia yang jual. Karena memang foto tersebut pernah saya posting di blog saya.

Keterangan yang terdapat dalam foto tersebut ada nomer telepon, harga, tahun mobil serta plat nomor asal kendaraan. Espass saya keterangannya tahun ’96 padahal aslinya tahun ’95, kemudian disitu tertulis plat AE Ponorogo sedangkan aslinya adalah AG Pare, Kediri.

Saya buka facebook orang yang posting itu dan kebetulan bisa dilihat status maupun foto-foto disana. sepertinya memang profesi doi adalah sebagai penjual mobil bekas. Ada beberapa foto yang menunjukkan showroom yang terdapat mobil berjajar disana. Kalau memang profesinya adalah jual beli mobil, harusnya tidak memakai foto lain untuk membursakan kendaraannya. (Ochim)


Kena Bara Api Rokok di Jalan Raya Caruban

Sejak sekolah dulu sampai sekarang, saya sudah menggunakan motor untuk memudahkan beraktivitas, baik jarak jauh maupun dekat. Namun baru kali ini saya merasakan kena panas bara api dari rokok seorang pengendara motor dijalan. Memang akhir-akhir ini banyak kampanye melalui youtube maupun sosmed lain yang mengajak untuk tidak merokok ketika mengendarai motor, karena memang pernah ada korban pengendara roda 2 yang kena.

Sekarang giliran saya yang jadi korban. Jadi ceritanya beberapa waktu lalu saya perjalanan dari Magetan ke Kediri sekitar jam 04.30 pagi. Ketika sampai di Caruban, saya riding santai dan di depan saya ada 2 orang boncengan, nah yang dibonceng itu tangan kirinya bawa rokok menyala. Kemudian tepat di depan Terminal Caruban, rokoknya memercikkan bara merah dan terbang ke belakang mengenai lutut saya. Awalnya bara itu nggak terasa dan saya biarkan. Baru sekitar 3 detikan setelah kena bara tersebut, ada rasa panas dan seperti ada yang menusuk lutut saya. Tangan kiri saya reflek mengusap-usap lutut sambil berusaha menghentikan motor, saya lihat celana ternyata nggak sampai bolong, padahal terasa panas banget.

Ingin rasanya menegur mereka tapi kalau saya lakukan takutnya malah doi tersinggung dan urusan jadi panjang. Kemudian saya jalan lagi dan menyalip mereka dan langsung menjauh.

Berdasarkan pengalaman ini, saya harap pengendara motor untuk selalu memakai peralatan safety riding yang lengkap, kalau perlu memakai kacamata. Karena ada korban lain itu yang kena adalah matanya, padahal dia sudah pakai helm half face dan kacanya kondisi  tertutup. Saya pikir mungkin bara itu masuk melalui celah antara kaca dan dagu pengendara. (Ochim)


Bawaannya Pengen Ngebut Dijalur Ini Ketika Pakai Supra 125

simpang empat patung pecel madiun

simpang empat patung pecel madiun

Beberapa waktu lalu saya riding pakai Supra Helm in dari Ngariboyo (Magetan) ke Kandangan (Kediri). Namun berangkatnya pas dini hari jam 03.05, btw ini pengalaman pertama saya riding dini hari dijalur tengah Jawa timur 😀 Jadi arus lalu lintasnya cenderung sepi, nggak seperti siang maupun sore hari yang selalu ramai.

Sudah lama saya tidak riding pakai motor bebek Supra 125 dijalur ini, terakhir ya dulu tahun 2013 ketika masih sering wara-wiri Kandangan-Magetan via Nganjuk seminggu sekali. Waktu itu saya selalu memacu motor diatas 80 km/jam karena memang jalur Kertosono – Madiun cenderung lurus nggak ada belokan. Seperti diketahui bahwa karakter motor Supra 125 untuk top speednya memang jempolan, mesin tidak terlalu teriak.

Supra Helm In punya Bapak

Nah kemarin itu seakan teringat saat dulu sering riding pakai Supra 125 dijalur tersebut, hanya bedanya yang saya bawa motor Supra 125 Helm In punya Bokap. Awalnya riding santai saja di kecepatan 60 -70 kpj, namun lama-lama kok ya nambah, apalagi lalu lintas lengang, wes makin puntir gas lebih dalem lagi, memacu motor di kecepatan rata-rata 80-90 kpj. Di jalan raya Madiun-Balerejo yang jalannya mulus dan lebar, makin mudah saja meraih top speed si Supra ini. Memasuki Saradan sempat terjebak truk-truk besar yang melambat dan nggak bisa nyalip  karena garis marka tersambung, lalu geber lagi ketika ada celah untuk menyalip. Motor Supra 125 ini galaknya itu pada gigi 2 dan 3, jadi untuk nyalip diantara kendaraan-kendaraan itu cukup lincah.

Ketika sampai di Wilangan-Nganjuk, mata terasa berat, mulai ngantuk, apalagi memang semalam kurang cukup tidur dan capek karena sampai magetan baru kemarin sorenya untuk menghadiri suatu acara.

Sampai di simpang empat Guyangan, saya belok kanan arah Kediri melalui Nganjuk Kota. Setelah sampai di kawasan Loceret pukul 05.32, saya berhenti di Masjid Besar untuk istirahat sebentar.  Ternyata hampir satu jam saya di masijd, langsung bergegas untuk melanjutkan perjalanan lagi melalui Tanjunganom dan Ngronggot, menyeberang jembatan baru Papar-Kelutan lalu lurus saja menuju Kandangan.

Supra 125 yang sudah terjual pada tahun 2015

Mengenang 5 tahun yang lalu ketika pakai Supra 125 ini, untuk riding rutinan Kandangan-Ngariboyo (Magetan) memang sangat recommended sekali, selain irit dan nyaman (untuk ukuran motor bebek) juga mesinnya bandel, dipacu kecepatan tinggi 3 jam lebih tarikannya tetep mantab, nggak ada gejala ngempos. Jadi pengen Supra lagi,hahahaa (Ochim)

 


Pas Kehujanan Nggak Bawa Mantel

20171108_143736Biasanya kemana-mana saya selalu bawa mantel, baik ketika bawa motor bebek maupun motor batangan. Namun saya harus perhatikan dulu cuaca saat itu, misalnya saja ketika pas mau riding berangkat kerja, kalau cuaca sedikit mendung meskipun nampak matahari, saya tetap bawa mantel.

Kali ini meleset, siang itu dari Kandangan saya mau perjalanan ke kantor Dinas Pendidikan di Kota Kediri, sebelum berangkat saya mau ganti motor dulu karena saat itu bawa motor bebek dan rencananya mau boncengan sama temen. Biar nyaman ridingnya saya mau tuker motor saja punya kakak saya pakai New Megapro. Namun ketika ganti motor, saya lupa ambil mantel juga di bagasi jok motor saya, baru inget ketika lagi dijalan. Tapi lihat cuaca saat itu memang lagi cerah jadi saya pikir nggak bakal hujan.

Ternyata pas sampai di Kantor Dinas Pendidikan Kota Kediri, tiba-tiba saja mendung gelap, saya pikir paling nanti nggak hujan, meskipun ada rasa khawatir juga karena nggak bawa mantel. Karena seperti kemarin-kemarin, langit kediri memang sering mendung serta udara sumuk tapi nggak hujan. Hingga akhirnya urusan di Kantor Dinas sudah kelar saya langsung cabut buru-buru pulang ke Kandangan. Namun ketika sampai di kawasan Gedangsewu,Pare tiba-tiba hujan langsung turun deras. Saya lalu berteduh di sebuah toko yang kebetulan sedang tutup.

Sekitar 15 menit menunggu hujan masih deras dan saya bersama temen sudah nggak betah menunggu berlama-lama, apalagi saya yang masih merasa nyesel banget karena lupa nggak bawa mantel. Hingga akhirnya saya mengamankan berkas-berkas yang saya bawa dengan tas kresek yang kebetulan selalu saya bawa, kemudian nekat melanjutkan perjalanan. (Ochim) 


Lupa Bawa STNK, Kena Tilang deh…

Seumur-umur baru kali ini saya kena tilang, ya karena memang kesalahan saya sendiri, lupa bawa STNK. Baru sadar ketika ada cegatan di kawasan Polsek Gurah, pas buka dompet untuk mengeluarkan SIM dan STNK, si STNK ini nggak ada, saya baru sadar bahwa beberapa hari yang lalu ketika saya mau mudik ke Magetan, STNK motor memang sengaja saya tinggal dirumah, karena mudiknya mau pakai espass.

Wes jelas ini kelalaian saya, ya uwes manut saja apa kata bapak polisi yang menilang. Didata kemudian diarahkan untuk membayar di bank BRI lalu nantinya ditunjukkan ke Polres Kediri untuk ditunjukkan serta mengambil SIM saya yang ditahan. (Ochim)