Category Archives: Serba serbi

Pas Kehujanan Nggak Bawa Mantel

20171108_143736Biasanya kemana-mana saya selalu bawa mantel, baik ketika bawa motor bebek maupun motor batangan. Namun saya harus perhatikan dulu cuaca saat itu, misalnya saja ketika pas mau riding berangkat kerja, kalau cuaca sedikit mendung meskipun nampak matahari, saya tetap bawa mantel.

Kali ini meleset, siang itu dari Kandangan saya mau perjalanan ke kantor Dinas Pendidikan di Kota Kediri, sebelum berangkat saya mau ganti motor dulu karena saat itu bawa motor bebek dan rencananya mau boncengan sama temen. Biar nyaman ridingnya saya mau tuker motor saja punya kakak saya pakai New Megapro. Namun ketika ganti motor, saya lupa ambil mantel juga di bagasi jok motor saya, baru inget ketika lagi dijalan. Tapi lihat cuaca saat itu memang lagi cerah jadi saya pikir nggak bakal hujan.

Ternyata pas sampai di Kantor Dinas Pendidikan Kota Kediri, tiba-tiba saja mendung gelap, saya pikir paling nanti nggak hujan, meskipun ada rasa khawatir juga karena nggak bawa mantel. Karena seperti kemarin-kemarin, langit kediri memang sering mendung serta udara sumuk tapi nggak hujan. Hingga akhirnya urusan di Kantor Dinas sudah kelar saya langsung cabut buru-buru pulang ke Kandangan. Namun ketika sampai di kawasan Gedangsewu,Pare tiba-tiba hujan langsung turun deras. Saya lalu berteduh di sebuah toko yang kebetulan sedang tutup.

Sekitar 15 menit menunggu hujan masih deras dan saya bersama temen sudah nggak betah menunggu berlama-lama, apalagi saya yang masih merasa nyesel banget karena lupa nggak bawa mantel. Hingga akhirnya saya mengamankan berkas-berkas yang saya bawa dengan tas kresek yang kebetulan selalu saya bawa, kemudian nekat melanjutkan perjalanan. (Ochim) 

Iklan

Lupa Bawa STNK, Kena Tilang deh…

Seumur-umur baru kali ini saya kena tilang, ya karena memang kesalahan saya sendiri, lupa bawa STNK. Baru sadar ketika ada cegatan di kawasan Polsek Gurah, pas buka dompet untuk mengeluarkan SIM dan STNK, si STNK ini nggak ada, saya baru sadar bahwa beberapa hari yang lalu ketika saya mau mudik ke Magetan, STNK motor memang sengaja saya tinggal dirumah, karena mudiknya mau pakai espass.

Wes jelas ini kelalaian saya, ya uwes manut saja apa kata bapak polisi yang menilang. Didata kemudian diarahkan untuk membayar di bank BRI lalu nantinya ditunjukkan ke Polres Kediri untuk ditunjukkan serta mengambil SIM saya yang ditahan. (Ochim) 


Surprise Banget Merasakan Jok Honda Scoopy FI

honda-scoopy-fiIni pengalaman pertama saya naik scoopy, tunggangan seorang temen cewek yang kebetulan minta dianter belanja untuk keperluan kantor. Awalnya saya pikir naik Scoopy itu ya sama kayak matic honda yang lain, tapi ternyata beda, joknya itu lebih empuk dan terasa nyaman saat mengendarainya. Padahal untuk kulit joknya sama seperti matic dan motor bebek Honda yang lain yaitu permukaannya sedikit kasar.

Pengalaman saya naik matic Honda seperti Beat, Vario techno 110/125 dan Spacy sama saja tidak ada yang istimewa (Vario 150 belum pernah nyoba). Tapi untuk Scoopy FI ini memang bener-bener berbeda. Didalam joknya seperti ada pegas yang membuatnya jadi lebih nyaman diduduki, apalagi saat melibas jalan yang nggak rata, pantat terasa anteng tidak terlalu bergeser karena efek guncangan. Kalau boleh menyamakan, menurut saya joknya Scoopy ini mirip punya matic Yamaha Mio Sporty yang memang terkenal empuk, kebetulan dirumah dulu pernah punya dan saya sering pakai juga. (Ochim)   


Pengalaman Naik Angkot Kota Mojokerto, Potong Kompas diluar Rutenya

line-a-kota-mojokertoSudah tidak asing bagi saya kalau mobil angkutan umum (MPU) terkadang tidak melewati rute yang sebenarnya, cenderung potong kompas untuk memperpendek jarak tempuh. Hal ini dilakukan karena rute yang tidak dilalui tersebut dianggap sepi penumpang. Namun yang membuat saya prihatin adalah ternyata angkot di Kota Mojokerto juga ada yang tidak melewati rute yang seharusnya. Padahal ini angkutan kota yang harusnya menurut saya ramai penumpang, ternyata juga sepi.

Ini saya ketahui beberapa waktu lalu ketika naik angkot dari terminal Mojokerto mau ke rumah kontrakan kawasan Magersari. Di selter pemberangkatan terminal MPU, tidak ada angkot yang ngetem, tapi diluar terminal ada 2 angkot line A dan B yang berjajar. Ada 3 orang yang berdiri di dekat angkot tersebut, saya mendekat lalu salah satu dari mereka menanyakan tujuan saya..

 “mau kemana mas?”

 saya jawab, “perum magersari pak”

 angkot-mojokertolalu orang tersebut menunjukkan line A yang ternyata sudah ada 3 penumpang di dalamnya, tapi saya di luar saja menunggu keberangkatannya. Sekitar 10 menit kemudian angkot berangkat dengan membawa 4 penumpang termasuk saya.

Sempat menaikkan penumpang 1 orang kemudian turun di depan Pasar Tanjung. Hingga akhirnya jalan yang menuju ke alun-alun tidak dilewati, langsung potong kompas lewat jalan lain, kemudian di rute lain juga tidak dilewati. Asumsi saya mungkin karena sepi penumpang jadinya pak sopir ambil rute terpendek agar bisa langsung kembali lagi ke terminal.

Oya saya jadi penumpang terakhir saat turun di depan perumahan, karena penumpang yang lain sudah pada turun di kawasan Pasar tanjung dan di persimpangan jalan arah ke alun-alun Kota.

Prihatin juga melihat kondisi angkot yang sekarang ini mulai ditinggalkan oleh para penumpang. Mereka lebih memilih memakai kendaraan pribadi untuk melakukan aktivitas sehari-hari. (Ochim)


Mengejar Harapan Jaya

Setiap pagi, saya selalu mengantar istri berangkat kerja ke halte bis kawasan Mojoagung, Jombang. Kebetulan istri saya ngajar di Kota Mojokerto, cukup jauh sekitar 46 km dari rumah di Kandangan. Untuk kesana, saya harus mengantar istri naik motor untuk menyingkat waktu, namun cuma sampai di mojoagung saja. Selanjutnya naik bus besar jurusan ke Surabaya.

speedometer-megaproSebenarnya dari Kandangan juga ada bis, yaitu naik bis medium menuju Jombang, lalu dari terminal Jombang oper bis besar jurusan ke Surabaya dan turun di Mojokerto. Namun kurang efisien karena harus ke Jombang dulu dan waktu tempuh jadi lama, belum lagi istri harus check lock sebelum jam 7 pagi. Paling praktis ya saya antar langsung ke Mojoagung melalui jalur alternatif yaitu lewat Bareng kemudian tembus Mojoagung, dilanjut naik bis arah ke Surabaya.

harapan-jaya-di-mojoagung

sori gambarnya ngeblur… 😀

Biasanya saya berangkat dari Kandangan tepat pukul 05.00, melewati Ngoro – Bareng – Mojoagung. Waktu tempuh agak ngebut 30 menit sudah sampai di halte Mojoagung kemudian menunggu bis yang akan membawa ke Mojokerto. Diantara pukul 05.30 – 05.40 nanti ada bis Harapan Jaya melintas dari Trenggalek menuju Surabaya. Bis ini yang selalu mengantar istri saya sampai di Mojokerto dan tidak telat sampai sekolah. (Ochim)


Mobil Tak bermoncong dianggap sebagai Kelemahan

Bila seseorang mau meminang sebuah mobil bekas, pastinya mempunyai beberapa kriteria tertentu. Tergantung kebutuhan dan dana yang disiapkan. Misalnya saja membutuhkan sebuah mobil keluarga yang bisa memuat penumpang lebih banyak, atau mobil sedan yang biasanya digemari para keluarga kecil.

espass-biru

Mobil tak bermoncong

Kriteria yang lain adalah mempertimbangkan kemudahan dalam mencari sparepart, jika sebuah mobil cukup susah dalam mencari partnya, ini biasanya dijauhi oleh calon pembeli karena tentu saja merepotkan bila terjadi kerusakan. Selain itu juga mempertimbangkan beberapa kelebihan dan kekurangan sebuah mobil yang menjadi incarannya.

Namun yang menjadi perhatian saya saat ini, ternyata di dalam sebuah grup facebook motuba (mobil tua bangka) pembahasan masalah kekurangan mobil kan biasanya seputar ketersediaan part, masalah mesin,dll, lha ini sekarang ada poin baru yang dianggap sebagai kelemahan yaitu mobil tak bermoncong alias mobil yang letak mesinnya dibawah sopir. Sebagian menganggap bahwa mobil yang tak berhidung ini kurang aman jika terjadi kecelakaan, tidak ada penghalang atau “pelindung” penumpang paling depan.

Memang ada benarnya juga, tapi saya yang kebetulan sering memakai mobil yang tak berhidung, menganggap itu tak jadi masalah dan bukan suatu kekurangan. Meskipun pakai mobil bermoncong, kalau sudah takdirnya kena musibah, ya nggak bisa menghindar lagi. (Ochim)


Ketika Melihat Grand Civic Maupun LX Dijalan

Honda Grand CivicGarasi rumah memang sudah berpenghuni, seonggok minibus buatan Daihatsu menjadi pilihan saya dan istri. Dulu, pada masa pencarian mobil bekas sempat tergoda dengan sedan Honda Grand Civic ataupun yang agak tua , Civic LX.

Namun itu hanya di angan saja karena waktu itu incaran saya selain minibus juga mobil sedan, namun yang masuk di kantong adalah Civic Wonder serta si Hathcback Suzuki Forsa. Grand Civic dan LX masih terlalu mahal sekitar 35 juta keatas. Sedangkan budget ya cuma 35 juta doank, namun tidak mungkin dana segitu saya pakai semua untuk menebus sebuah mobil, harus menyiapkan dana juga untuk perbaikan. Sehingga dana maksimal yang bisa saya pakai 30 jutaan, meskipun akhirnya yang terpakai malah 32 juta (harga espass).

Walau sudah dapat Espass, ternyata masih suka baper juga kalau ketemu dua sedan tersebut, sebuah impian yang tak teraih. Bodinya yang cenderung ceper serta mengkotak, cukup membuat saya betah melihatnya. (Ochim)

pict: grandcivic.com