Ada yang Naksir Si Espass

Kemarin lusa ada seorang ibu-ibu bersama dengan anaknya datang kerumah. Ketika mengetuk pintu pagar saya mengintip melalui jendela sambil mengernyitkan dahi, merasa tidak kenal, lalu saya buka pagar, perkiraan saya mungkin wali murid.

Sebelum saya persilahkan masuk, ternyata ibu tadi langsung menanyakan Espass saya yang terparkir di depan rumah, “mobilnya dijual apa tidak?”

Walah…. sambil senyum-senyum saya jawab, “tidak dijual bu”. Kemudian anak ibu tadi gantian bertanya,

“espassnya dijual berapa?” lalu sebelum saya jawab, ibu tadi berujar ke anaknya, “itu lho nggak dijual nak”.

Ibu tadi lalu bercerita bahwa sedang mencari mobil Espass yang berwarna biru, persis seperti punya saya. Katanya sudah lama mencari tapi susah dapatnya. Ternyata warna biru dongker seperti itu jadi warna favorit di keluarganya.

Btw…Espass ini untuk sementara memang tidak dijual karena memang belum kepikiran kesana, lagian memang kondisi mobil ini masih fit, tinggal pakai saja. Mobil ini selalu saya rawat, misalnya kalau ada kerusakan sedikit, apalagi menyangkut mesin pasti langsung masuk bengkel untuk diperbaiki.

Karena biasanya saya pakai rutin untuk mudik kerumah mertua di Magetan, sehingga kalau dipakai jalan jauh itu nggak was-was atau khawatir ada trouble. Ya walaupun dulu pernah mogok juga ketika dipakai lebaran,hehe. Kalau misalnya tetap ada kerusakan dijalan ya itu namanya apes 😀 , yang penting sudah berusaha untuk cek semua mesin dan semua komponen penggeraknya. Tapi kalau nanti mulai rewel dan minta jajan terus, ya terpaksa dijual saja,hahaaa. (Ochim)

 

Iklan

Pasar Benteng Pancasila Kota Mojokerto Terbakar

Sejumlah 200 lebih kios dagang di sentra PKL Benteng Pancasila (Benpas)Kota Mojokerto habis terbakar. Kejadian awal pada hari jumat malam sekitar jam 23.30 dan baru bisa dipadamkan sekitar pukul 03.00 hari sabtu. Saya awalnya mengetahui info tersebut  dari grup facebook Info Lantas Mojokerto (ILM) sekitar jam 12 malam, disana banyak yang memposting foto maupun video kondisi pasar yang sedang terbakar hebat.

Awalnya hanya ada 2 kendaraan Damkar yang mencoba memadamkan namun ternyata belum berhasil, hingga akhirnya didatangkan sampai 12 Damkar. Bahkan kabarnya sampai meminta bantuan water canon Kepolisian setempat.

Penyebab kebakaran untuk sementara belum diketahui namun beberapa orang mengatakan kemungkinan karena korsleting listrik. Kebetulan tetangga yang rumahnya persis disebelah saya lapaknya jadi korban, beliau punya 2 lapak disana namun beruntungnya barang dagangan sebagian tersimpan dirumah, sehingga nantinya masih bisa berjualan. Walaupun begitu tetap mengalami kerugian cukup besar sampai 50 juta lebih katanya.

Semoga para pedagang yang jadi korban kebakaran diberi kesabaran atas musibah yang menimpa serta segera dapat gantinya dengan yang lebih baik. (Ochim)

Foto: dari grup facebook Info Lantas Mojokerto

 


Borosnya Innova Bensin Tak Seperti yang Mereka Khawatirkan

Persepsi sebagian masyarakat mengenai Innova tipe bensin adalah konsumsi BBM yang sangat boros, oleh karena itu jika ingin meminang Innova maka lebih baik ambil yang tipe diesel, karena tingkat konsumsi solarnya lebih irit. Maka tak heran ketika tahun lalu bapak saya baru ambil Innova tipe bensin, banyak yang menyayangkan…

“kenapa tidak ambil yang diesel saja karena lebih irit”, lalu ada juga yang tanya, “memang boros banget ya pakai Innova?”.  Ada juga yang nyeletuk, “wah orang kaya nih…belinya Kijang Innova”

Sebenarnya sejak awal ketika mau meminang Innova bensin, kekhawatiran itu memang ada, karena sebelumnya sekeluarga sudah terlena dengan keiritan Espass ’96 yang biasanya dipakai bepergian. namun sepupu saya yang kebetulan punya Innova 2004 (yang mau dibeli oleh bapak) meyakinkan kalau borosnya itu nggak seberapa, dan Bismillah… akhirnya bapak tetap lanjut serta yakin memilih Innova untuk dikandangain di garasi rumah.

Kemudian setelah berhasil memboyong Innova, bapak, saya, maupun mas saya bergantian memakai Innova ke luar kota seperti ke Tulungagung, Malang, Surabaya, Sidoarjo sekalian untuk membuktikan seberapa borosnya konsumsi BBMnya. Memang sih tanpa metode khusus misalnya full to full, tapi hanya perkiraan saja. Hasilnya memang nggak begitu boros, walaupun dipakai full AC sekalipun.

Saya sendiri sering tak pakai mudik kerumah istri di Magetan, ketika berangkat dari rumah di Kediri saya selalu isi 150 ribu pertalite (biasanya pakai espass 100 ribu pertalite sekali berangkat) untuk antisipasi saja kalau bensin nggak cukup.

Setelah sampai di Magetan, saya lihat indikator BBM memang masih sisa cukup banyak, padahal AC juga saya nyalakan sepanjang jalan. Kemudian ketika perjalanan pulang ke Kediri saya isi lagi pertalite 150 ribu (kadang saya isi 100 ribu), sampai di Kediri juga indikator BBM masih ada sisa.

Menurut saya berdasarkan pengalaman diatas konsumsi BBM Innova bensin tidak terlampaui boros, ya walaupun cuma berdasarkan kebiasaan, tapi bagi saya sudah cukup membuktikannya. (Ochim)


Harus Antri Dulu Untuk Pinjam Kaset Linkin Park

Dulu ketika saya masih usia sekolah, sekitar tahun 2002-2003 lagi heboh lagu-lagu LP di kalangan anak sekolah. Temen kos saya yang kebetulan anak kuliahan juga suka nyanyi sambil bergitar lagu-lagu LP, nge-band juga pakai lagu-lagu LP.

Memang waktu itu pas lagi tenar-tenarnya Linkin Park di album Hybrid Theory, saya juga sempat suka bahkan mau pinjem kaset punya temen, namun ternyata sudah dipinjem temen lain, sampai nunggu lama karena harus gantian dengen temen yang lainnya lagi 😀

Sampai akhirnya ketika keluar album kedua bertajuk “Meteora”, saya niat mau beli kasetnya, ternyata kelewat mahal untuk kantong siswa waktu itu,hihihii akhirnya nggak jadi wes. Memang band rock ini begitu keluar langsung tenar di industri musik Internasional, albumnya juga mendapatkan banyak penghargaan. (Ochim)


Begini Alur Pembayaran Denda Tilang di Wilayah Kabupaten Kediri

Pada tangga 4 Mei 2017 saya ditilang karena pada saat pemeriksaan surat-surat kendaraan, lupa tidak membawa STNK. Oleh karena itu saya diharuskan untuk membayar denda maksimal sebesar 500 ribu di bank BRI. Kok mahal banget?? Tapi kata polisinya nanti tergantung sidangnya kena denda berapa, yang penting bayar denda maksimal dulu. Okeh saya manut saja, kemudian Pak polisi memberikan saya slip tilang warna biru.

Beberapa hari kemudian pada tanggal 10 Mei 2017 saya ke BRI untuk membayar denda tilang 500 ribu dengan menunjukkan surat tilang saya warna biru, kemudian dapat struk seperti ini…

Struk pembayaran tilang dari BRI

Menurut teller BRI, bukti pembayaran ini nantinya ditunjukkan ke Polres Kediri, oke… saya langsung ke Polres Kediri untuk menunjukkan struk bahwa saya sudah membayar denda tilang 500 ribu. Lalu petugas memberikan SIM saya yang disita pada saat razia, namun sebelumnya petugasnya menyuruh saya untuk memfoto copy rangkap 2  surat tilang warna biru tadi dan struk pembayaran BRI, untuk nantinya dibawa pada saat sidang.

Satlantas Polres Kediri

SIM sudah saya bawa, namun saya menunggu tanggal 18 Mei 2017 (berdasarkan surat tilang) untuk sidang di kantor Kejaksaan Negeri Kabupaten Kediri meminta surat keputusan, surat keputusan ini isinya adalah bahwa pelanggar ini harus membayar denda tilang sekian rupiah.

Nah ternyata di kantor Kejaksaan Negeri ini bukan sidang seperti bertemu hakim dan sebagainya layaknya sebuah sidang suatu kasus kriminal (seperti yang saya bayangkan), Melainkan hanya datang ke loket tilang untuk meminta surat keputusan.

Antri di Kantor Kejaksaan

Suasana cukup ramai, saya harus antri panjang untuk menuju loket tilang tersebut sambil membawa foto copy surat tilang dan dan struk pembayaran dari BRI. Setelah 1 jam antri akhirnya saya dapat surat keputusan yang isinya adalah denda yang dikenakan kepada saya adalah sebesar 50 ribu saja, Alhamdulillah ternyata nggak mahal 😀

surat keputusan dari kejaksaan

Kemudian surat keputusan saya bawa ke BRI lagi pada tanggal 24 Mei 2017 untuk mengambil sisa uang kembalian. Saya diarahkan ke bagian costumer service dulu sambil menunjukkan fotocopy surat tilang, fotocopy pembayaran denda tilang, surat keputusan asli serta KTP asli (hanya ditunjukkan saja) untuk kemudian ditukar dengan slip warna merah yang entah apa namanya, yang jelas disana tertulis bawa saya hendak mengambil sisa kembalian denda tilang.

slip warna merah untuk mengambil kembalian

slip warna merah untuk mengambil kembalian denda tilang

Itulah sedikit uraian pengalaman saya mengenai proses pembayaran denda tilang, semoga sedikit membantu bagi pengguna jalan yang kena tilang seperti saya 😀 (Ochim)


Konsumsi BBM Pada Matic Honda Beat eSP

Honda Beat eSPKetika mengendarai Honda Beat dari Magetan menuju Mojokerto, saya iseng sekalian menguji tingkat konsumsi bahan bakarnya, kebetulan tangki Beat saya isi dengan Pertalite. Ketika berangkat dari rumah kawasan Ngariboyo, Magetan, kondisi indikator BBM menunjukkan 1 bar, kemudian mampir di SPBU timurnya perempatan Gorang-Gareng untuk mengisi penuh Pertalite sampai di bibir tangki.

Setelah penuh langsung saya jepret odometer untuk memulai pengukurannya, angka odometer menunjukkan 573.1, kemudian langsung gas melewati Takeran lalu memasuki Kota Madiun. Sempat ada razia kendaraan bermotor di jalan satu arah sebelah sungai besar Kota Madiun, Alhamdulillah lolos, lanjut gas menuju timur dengan kecepatan 60 – 80 kpj.

Sampai di Perak-Jombang, indikator bensin mulai berkurang 1 bar, kemudian memasuki Kota Mojokerto berkurang lagi 1 bar. Lalu sebelum sampai rumah, saya mampir dulu di SPBU jalan Bhayangkara dekat perlintasan kereta api. Isi penuh dengan pertalite lalu saya minta notanya.

Pada saat diisi penuh di SPBU Jalan Bhayangkara ini, Pertalite yang masuk sebanyak 2,39 liter, lalu saya jepret lagi odometer untuk kedua kalinya, menyentuh angka 721.3.

Odometer akhir 721,3 dikurangi odometer awal 573,1 = 148 km, angka 148 km kemudian saya bagi jumlah liter pertalite yang dimasukkan yaitu 2,39 = 62,00. Jadi konsumsi pertalite Honda Beat eSP dipakai riding Magetan – Mojokerto per liter menempuh 62,00 km. Irit banget kan??  (Ochim)


Riding Magetan – Mojokerto Pakai Honda Beat FI eSP, Ternyata Cukup Nyaman

Honda Beat eSPHari minggu pagi kemarin saya ke rumah mertua di Magetan naik bis, rencananya mau ambil motor Honda Beat punya istri untuk dibawa ke Mojokerto. Saya pikir nantinya bakal capek mengendarai motor matic kecil dengan jarak 140 km lebih, apalagi saya juga belum pernah riding pakai motor matic dengan bodi yang imut, biasanya ya pakai motor bebek atau motor sport seperti GL Max dan Megapro.

Setelah sampai dirumah mertua, ngobrol-ngobrol lalu istirahat, pukul 14.30 saya pamit balik ke mojokerto sambil mengeluarkan motor Honda Beat. Sejak dari Mojokerto tadi, saya sudah membawa helm sendiri, jaket, sarung tangan dan masker. Rencana mau istirahat di kawasan Saradan, mengingat motornya kecil dan pasti bikin  cepet pegel.

Setelah menempuh perjalanan melewati Saradan, ternyata belum terlalu capek, saya masih bisa melanjutkan perjalanan. Honda Beat ini ternyata suspensinya cukup nyaman, kemudian joknya ini juga terasa empuk, nggak seperti Beat keluaran sebelumnya yang menurut saya keras. Posisi riding juga nggak bikil pegel, antara jok dan kaki saya berpijak tidak terlalu pendek, padahal sejak awal, poin ini yang jadi masalah buat saya. Dulu pernah pakai Beat injeksi yang gen awal, menurut saya joknya terlalu tipis dan pendek sehingga jarak duduk dengan dek bawah terlalu dekat, kaki saya nggak nyaman.

Nah Honda Beat injeksi yang sekarang ini menurut saya ada perubahan pada joknya, jadi lebih empuk. Sepertinya ketebalan joknya memang ditambah. Kemudian kulitnya agak kasar dan keset sehingga ketika duduk tidak mudah tergelincir.

Setelah perjalanan 2 jam sampai di Nganjuk Kota, saya berhenti di Masjid timurnya Terminal Anjuk Ladang, Nganjuk untuk sholat ashar. Sekitar 15 menit kemudian saya lanjut perjalanan lagi. Kemudian waktu maghrib memasuki Kota Jombang, saya berhenti lagi di masjid sebelum jembatan layang Peterongan. Mulai terasa capek namun saya merasa masih mampu untuk riding lagi, hingga akhirnya masuk Kota Mojokerto tepat jam 19.00.

Kesan pertama naik Beat Injeksi gen 2 ini ternyata cukup nyaman, ya meskipun capek namun untuk ukuran saya yang bongsor ini tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Tapi untuk saya pribadi, riding jarak jauh pakai matic ini nggak recommended, karena ukuran ban yang mungil kurang nyaman melibas aspal yang dominan berlubang dan bergelombang, bahaya jika ketemu lubang yang lebar dan dalam. (Ochim)