Mengejar Harapan Jaya

Setiap pagi, saya selalu mengantar istri berangkat kerja ke halte bis kawasan Mojoagung, Jombang. Kebetulan istri saya ngajar di Kota Mojokerto, cukup jauh sekitar 46 km dari rumah di Kandangan. Untuk kesana, saya harus mengantar istri naik motor untuk menyingkat waktu, namun cuma sampai di mojoagung saja. Selanjutnya naik bus besar jurusan ke Surabaya.

speedometer-megaproSebenarnya dari Kandangan juga ada bis, yaitu naik bis medium menuju Jombang, lalu dari terminal Jombang oper bis besar jurusan ke Surabaya dan turun di Mojokerto. Namun kurang efisien karena harus ke Jombang dulu dan waktu tempuh jadi lama, belum lagi istri harus check lock sebelum jam 7 pagi. Paling praktis ya saya antar langsung ke Mojoagung melalui jalur alternatif yaitu lewat Bareng kemudian tembus Mojoagung, dilanjut naik bis arah ke Surabaya.

harapan-jaya-di-mojoagung

sori gambarnya ngeblur… 😀

Biasanya saya berangkat dari Kandangan tepat pukul 05.00, melewati Ngoro – Bareng – Mojoagung. Waktu tempuh agak ngebut 30 menit sudah sampai di halte Mojoagung kemudian menunggu bis yang akan membawa ke Mojokerto. Diantara pukul 05.30 – 05.40 nanti ada bis Harapan Jaya melintas dari Trenggalek menuju Surabaya. Bis ini yang selalu mengantar istri saya sampai di Mojokerto dan tidak telat sampai sekolah. (Ochim)


Naik Speed Boat di Telaga Sarangan

Beberapa hari yang lalu istri ngajak ke Telaga Sarangan, kebetulan kita belum pernah kesana bareng setelah punya si kecil, kalau sebelumnya mah sudah sering banget mulai belum nikah sampai manten anyar 😀  pokoknya jadi tempat wisata paling favorit bagi kita. Nah kebetulan lagi liburan dirumah istri di Magetan, ya uwes berangkat saja pakai motor punya adik ipar.

telaga-saranganSudah agak siang sih berangkatnya, karena sejak pagi masih repot dan baru persiapan berangkat setelah jam 10 pagi. Siapin motor dan isi bensin, motor bergerak pelan keluar desa menuju jalan raya  Parang – Ngariboyo, menuju Magetan kota lalu bablas ke arah barat sekitar 13 km menuju Sarangan. Awalnya jalan masih landai dan nggak terlalu menanjak, tapi setelah melewati pasar Plaosan (sekitar 5 km sebelum Sarangan), mulai banyak tikungan dan jalan mulai menanjak cukup tajam. Mesin vixion saya paksa di gigi 2 bahkan sempat gigi 1 karena ada beberapa mobil dan motor di depan sedang melambat.

tiket-masuk-telaga-saranganAkhirnya sampai di pintu masuk Telaga Sarangan dan membayar tiket sebesar 20 ribu. Sebenarnya tiket Cuma 7500 per orang, namun ada tambahan lain seperti sumbangan PMI dan retribusi lain jadi seluruhnya 20 ribu.

Begitu masuk lokasi, terlihat lagi banyak pengunjung, mobil banyak terparkir di sekitar telaga maupun di lahan parkir. Anak saya sangat senang bisa melihat kuda serta perahu boat, ketika saya membawa motor keliling telaga, si kecil merengek minta naik speed boat. Awalnya saya abaikan saja, sampai saya alihkan untuk makan sate ayam di warung pinggir talaga, namun ternyata tidak di gubris, tetap minta naik sambil nunjuk-nunjuk perahu yang banyak melintas  mengelilingi telaga.

telaga-sarangan-2

Ya uwes setelah saya makan sate ayam yang sudah di pesan, saya menuju dermaganya dengan menawar terlebih dahulu. Ternyata tidak bisa ditawar, tarif naik speed boat 60 ribu sekali putar, nggak bisa turun sedikitpun, alasannya ya karena memang setorannya sudah segitu, dibuat sama dengan boat yang lain. Sebenarnya saya nggak begitu tertarik untuk naik perahu ini, selain karena tarifnya yang menurut saya terlalu mahal juga karena minim alat safety, tidak ada rompi pelampung. (Ochim)

bonus penampakan sate ayam…

harga sate ayam sarangan 12.000 + lontong 3000

sate-ayam-sarangan


Mobil Tak bermoncong dianggap sebagai Kelemahan

Bila seseorang mau meminang sebuah mobil bekas, pastinya mempunyai beberapa kriteria tertentu. Tergantung kebutuhan dan dana yang disiapkan. Misalnya saja membutuhkan sebuah mobil keluarga yang bisa memuat penumpang lebih banyak, atau mobil sedan yang biasanya digemari para keluarga kecil.

espass-biru

Mobil tak bermoncong

Kriteria yang lain adalah mempertimbangkan kemudahan dalam mencari sparepart, jika sebuah mobil cukup susah dalam mencari partnya, ini biasanya dijauhi oleh calon pembeli karena tentu saja merepotkan bila terjadi kerusakan. Selain itu juga mempertimbangkan beberapa kelebihan dan kekurangan sebuah mobil yang menjadi incarannya.

Namun yang menjadi perhatian saya saat ini, ternyata di dalam sebuah grup facebook motuba (mobil tua bangka) pembahasan masalah kekurangan mobil kan biasanya seputar ketersediaan part, masalah mesin,dll, lha ini sekarang ada poin baru yang dianggap sebagai kelemahan yaitu mobil tak bermoncong alias mobil yang letak mesinnya dibawah sopir. Sebagian menganggap bahwa mobil yang tak berhidung ini kurang aman jika terjadi kecelakaan, tidak ada penghalang atau “pelindung” penumpang paling depan.

Memang ada benarnya juga, tapi saya yang kebetulan sering memakai mobil yang tak berhidung, menganggap itu tak jadi masalah dan bukan suatu kekurangan. Meskipun pakai mobil bermoncong, kalau sudah takdirnya kena musibah, ya nggak bisa menghindar lagi. (Ochim)


Jalur Jombang – Saradan Mulai Banyak yang Berlubang

jalan-raya-saradanPadahal ini jalur propinsi, arus lalu lintas sering padat ketika weekend, namun aspalnya sudah mulai banyak berlubang dan dalam. Beberapa waktu lalu ketika saya lagi mudik ke rumah mertua di Magetan, walaupun menggunakan mobil yang cukup nyaman, tapi saya tetap berjalan pelan dan ekstra waspada memperhatikan jalan.

Yang paling parah berada di jalur Kertosono – Nganjuk Kota, walaupun ada aspal yang mulus di beberapa titik, namun sebagian besar aspalnya berlubang, sehingga cukup membahayakan pengguna jalan khususnya pengendara roda dua.

Apalagi di kawasan hutan saradan banyak dump truk berukuran besar wara-wiri disana, keluar-masuk hutan membawa material bangunan jalan tol. Yup, disana sekarang memang sedang proses membangun jalur tol, sehingga keberadaan mereka seakan mempercepat kerusakan jalan. Yowes dimaklumi saja, mudah-mudahan proyek tersebut segera selesai sehingga bisa memperlancar lalu lintas di jalur tengah Jawa Timur. (Ochim)


Bakso Mekarsari Dinoyo, Sangat recomended

bakso-mekarsari-dinoyoKemarin sore lagi berkunjung ke rumah saudara di daerah Dinoyo Malang, nah menu makan wajib yang harus dibeli ketika di Malang tentunya ya baksonya. Sempat mau ke Bakso Damas tapi saya masih penasaran dengan bakso Mekarsari yang ada di Dinoyo, tepatnya agak nyempil di gang sebelah timurnya DT, sebutan dari Dinoyo Teater.

bakso-mekarsari-dinoyo2Menurut sodara saya sih memang enak dan campurannya standar, ada siomay, goreng kembang, tahu rebus maupun tahu goreng, pentol kasar maupun halus. Ya uwes akhirnya meluncur ke Dinoyo, parkirin mobil di depan ruko DT.

Saya pilih pentol halusnya 3, kemudian tahu goreng, rebus, siomay, goreng dan mie kuning, masing-masing 1 saja, langsung totalan pilihan saya seharga 18 ribu. Saya lupa harga per itemnya berapa, yang saya inget harga pentolnya 3 ribu. Begini tampilannya…

bakso-mekarsari-dinoyo3Rasanya sangat khas bakso Malang, kuahnya bening dan masih panas. Pentolnya sesuai selera lidah saya, begitu juga item yang lain, pokoknya enak semua. (Ochim)


Ketika Melihat Grand Civic Maupun LX Dijalan

Honda Grand CivicGarasi rumah memang sudah berpenghuni, seonggok minibus buatan Daihatsu menjadi pilihan saya dan istri. Dulu, pada masa pencarian mobil bekas sempat tergoda dengan sedan Honda Grand Civic ataupun yang agak tua , Civic LX.

Namun itu hanya di angan saja karena waktu itu incaran saya selain minibus juga mobil sedan, namun yang masuk di kantong adalah Civic Wonder serta si Hathcback Suzuki Forsa. Grand Civic dan LX masih terlalu mahal sekitar 35 juta keatas. Sedangkan budget ya cuma 35 juta doank, namun tidak mungkin dana segitu saya pakai semua untuk menebus sebuah mobil, harus menyiapkan dana juga untuk perbaikan. Sehingga dana maksimal yang bisa saya pakai 30 jutaan, meskipun akhirnya yang terpakai malah 32 juta (harga espass).

Walau sudah dapat Espass, ternyata masih suka baper juga kalau ketemu dua sedan tersebut, sebuah impian yang tak teraih. Bodinya yang cenderung ceper serta mengkotak, cukup membuat saya betah melihatnya. (Ochim)

pict: grandcivic.com


Akibat Mengabaikan Tanda-tanda Tak Normal pada Espass

espass-biruSebelum Espass mogok pada perjalanan mudik kemarin, sebenarnya ada tanda-tanda yang menurut saya memang tidak wajar. Yaitu beberapa hari sebelumnya, gas terasa sering brebet, awalnya Cuma pas pada gigi rendah saja, namun lama-lama merata bahkan pada posisi gigi puncak. Saya pikir mungkin karena setelan karbu atau platina saja yang kurang pas, bisa juga busi setengah mati. Namun saya abaikan karena menjelang lebaran banyak bangkel yang penuh, lagian kalau masalahnya seperti yang saya perkirakan tadi, masih bisa ditunda lah 😀

Saya berpikir seperti itu karena beberapa hari sebelum mudik pernah masuk bengkel untuk check up, dan hasilnya, yang berhubungan dengan pengapian masih bagus, hanya ada beberapa yang diganti baru termasuk filter bensin.

speedometer-espass-1995Kemudian tanda kerusakan yang lain adalah lampu indikator aki yang padam. Jadi beberapa hari sebelumnya, indikator ini memang tidak menyala ketika pertama kali kontak saya ON-kan. Biasanya kontak posisi ON itu indikator yang nyala adalah Hand rem, oli dan aki, nah ini yang nyala cuma hand rem (ketika hand rem posisi aktif) dan indikator oli. Ini bener-bener saya abaikan dan tidak saya cari tahu penyebabnya. Biasanya kalau ada tanda yang tidak wajar, setidaknya saya browsing cari informasi mengenai tanda kerusakan.

Walhasil mogok deh seperti yang saya ceritakan di artikel sebelumnya. Penyebab utamanya ya karena dinamo ampere yang tidak konek, sehingga kelistrikannya jadi kacau. (Ochim)